BROKEN HOME

BROKEN HOME

Maklumilah! Anak Broken Home itu Rapuh

Terdengar terlalu mellow? Atau, seperti dilebih-lebihkan? Faktanya, anak broken home itu memang suka mellow dan kadang melebih-lebihkan. Kamu yang hidupnya ‘normal’ saja pasti pernah mellow atau bahkan koar-koar di media sosial mengeluhkan hidupmu.. Apalagi kami yang tak punya tempat peraduan.

🙂

Memaklumi, iya. Aku sendiri memaklumi ketika ternyata jadi seorang yang sukses itu sulit ketika kamu dihadapkan pada kenyataan hidup seperti ini. Memaklumi jika kita pernah jatuh. Ayolah, jangan munafik! Kamu yang punya ortu lengkap saja di sisimu mungkin juga memberontak. Paling tidak memberontak kepada kehidupan, jika bukan pada orangtuamu. Apalagi kami. Yang bahkan tidak tahu sebenarnya memberontak pada apa dan siapa.

Sepertinya aku sendiri mulai larut ketika menuliskan ini.

Aku ingin mengajak kalian untuk memaklumi kami anak-anak broken home akan tindakan kami. Kalian mungkin jengkel berpikir: “Hei, Bodoh! Bodoh sekali kalian mau menenggelamkan diri sendiri. Wake up! Jangan terlalu dipikirkanlah, jangan terlalu nganggep diri paling menderitalah. Kita semua punya masalah”.

…tapi sayangnya, kami tidak ingin masalah kami dibanding-bandingkan. Kami tidak menganggap bahwa kami paling menderita. Hanya saja…


  • Tidak tahu harus mengadu pada siapa

Papa-Mama mungkin masih ada secara fisik, tapi mereka cukup melukai hati. Bertengkar terus-menerus bikin anak-anak broken home kurang percaya pada ortu, bukan?

Di lain pihak, ada salah satu ortu yang memang benar-benar jadi korban. Akhirnya, apakah Ibu atau Ayah yang jadi korban, mereka yang jadi korban tak dipungkiri akhirnya berfokus pada penderitaan mereka. Katakanlah mereka benar-benar peduli pada anak-anak tetapi anak pun akhirnya harus ikut merasakan penderitaan itu, kan? Mereka tidak bisa memeluk ibu atau ayah mereka dengan perasaan gembira, melainkan memeluk karena perasaan sedih ikut merasa menderita.

I watched you die

I heard you cry every night in your sleep

You never thought of anyone else

You just saw your pain

~ Because of You, Kelly Clarkson.

Anak broken home lainnya benar-benar kehilangan kedua orangtuanya. Kalau sudah begini…

  • Teman jadi sandaran

Tidak bisa curhat ke ortu, akhirnya ya curhat ke teman. Syukur kalau dapat teman yang ‘baik’. Sayangnya, ada beberapa anak broken home yang malah bergaul dengan teman-teman yang kurang baik. Atau yang lain malah jatuh ke pelukan pacar brengsek!

Begitupun, meski memiliki teman terbaik sekalipun atau orang dewasa yang ibarat orangtua, kadang mereka tidak sepenuhnya mengerti keadaan kita. Bisa jadi dia tidak paham akan kondisi kita atau dia juga dalam masalah yang sama atau masalah yang lain. Meski dikelilingi teman-teman yang baik, ada kalanya, anak broken home benar-benar merasa kesepian.

Kasih orangtua sendiri tetap tidak tergantikan.

  • Alkohol, obat-obatan dan pesta jadi pengalihan

Percayalah! Anak broken home itu rapuh. Di saat-saat kesepian tersebut, alkohol mungkin jadi teman paling mengerti. Yang paling parah sih ketika sayangnya ada yang malah menghibur diri dengan party habis-habisan, bahkan sampe mengonsumsi obat-obatan kejam itu. Ayolah, akui saja, kita pernah jatuh ke kubangan dosa. Roh sebenarnya penurut tetapi daging lemah. Mereka yang punya ortu lengkap pun bisa jadi begitu, apalagi kita.

 

  • Depresi dan menyakiti diri sendiri

Akhirnya, apapun yang anak broken home lakukan, mereka tetap harus hadapi kenyataan. Sayangnya, kenyataan tetap pahit seakan ingin membuat mereka harus mengeluarkan air mata sejadi-jadinya dan berteriak sekencang-kencangnya – namun tidak bisa! Menyakiti diri sendiri ntah dengan menyayat kulit tubuh mungkin bisa mengekspresikan kesakitan hati itu. Anak lain masih waras alias masih punya rasa takut untuk mati, sekali lagi alkohol dan mendekam diri, menangis dalam hati, tidur… Jadi pelampiasan terbaik. Atau, mungkin ngomel-ngomel sendiri di media sosial.

Had a face like an angel, but inside my heart was as black as a broke movie screen

~Because of You, Lana Del Rey.

Hey, Dear! Sayang sekali kisahmu hanya sampai di situ. Jangan simpan untuk dirimu saja. Sampaikan ke seluruh dunia. Dramatisir lagi kisahmu hingga menarik perhatian khalayak umum.

Tidak perlu membagikan foto sayatan di nadimu. Tidak perlu juga untuk menyayat kulitmu yang bagus. Cukup rangkai sebuah cerita saja. Bagikan sebagai tulisan, lagu, foto, posting yang lebih elegan di media sosial ataupun apa pun itu yang bikin orang lain berdecak kagum padamu. Foto sayatan nadimu hanya akan jadi tontonan dan gunjingan saja bagi mereka. Lagipula, bagaimana kamu bisa berbagi kisah kalau kamu memilih mati? Jadi, Mengapa tidak menyajikan tontonan yang lebih baik lagi bagi mereka, yang lebih menjual, yang bikin mereka terperangah oleh karena kisahmu begitu menarik, begitu menyentuh. Apalagi kisah itu diungkap oleh dirimu sendiri.

Hey, kamu yang ngakunya anak broken home..

Menyelam tentu jadi atraksi yang jauh lebih memuaskan daripada hanya sekadar menenggelamkan diri ke dalam air, bukan?

Maklumilah! Anak Broken Home itu Rapuh

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s